Pemimpin tidak lahir begitu saja, tetapi harus dibentuk dan dibina. Ya, kalimat tersebut adalah kalimat bijak yang selalu diperdengarkan di Rumah Kepemimpinan. Memang betul, pemimpin hebat selalu lahir dari proses pembentukan dan pembinaan yang luar biasa. Bahkan, pemimpin sekaliber Soekarno sekalipun menjalani pembinaan di bawah bimbingan HOS Cokroaminoto. Sebagaimana wejangan dari Husein Ibrahim, salah satu pendiri Rumah Kepemimpinan, “melalui pembinaan yang baik, diharapkan akan lahir pemimpin-pemimpin yang mampu membawa Indonesia menjadi lebih baik di masa yang akan datang”.
Beberapa waktu yang lalu, saya
mengikuti sebuah event, bernama National
Leadership Camp di Jakarta. Event ini merupakan salah satu agenda pembinaan
khusus dari Rumah Kepemimpinan. Pada event National
Leadership Camp, banyak pengetahuan, pengalaman, dan motivasi yang didapatkan
sebagai langkah awal menuju pembinaan selama 22 bulan mendatang. Banyak
pembicara-pembicara hebat yang hadir, diantaranya Anies Baswedan dan Sudirman Said; Ustadz Musholli dan Letjen
Purn. Husein Ibrahim (Pendiri Rumah Kepemimpinan); Sandiaga S. Uno, Nur Agis
Aulia, Achmad Zaky (Enterpreneur); Dalu Nuzlul, Gesa Falugon, dan Faldo Maldini (Aktivis); Suyoto
(Bupati Bojonegoro); Yoyok (Bupati Batang); Ricky Elson (Pelopor Mobil Listrik
Nasional); dan pembicara-pembicara lainnya.
Mungkin ada yang bertanya, apa itu Rumah Kepemimpinan?.
Rumah kepemimpinan adalah sebuah komunitas penerima beasiswa PPSDMS; dimana para
penerima beasiswa akan diasramakan dan mendapatkan pembinaan baik harian, pekanan,
bulanan, tahunan, maupun pembinaan khusus selama 22 bulan. Rumah Kepemimpinan
tersebar di tujuh regional dan Sembilan PTN ; Jakarta (Univ. Indonesia),
Bandung (Institut Teknologi Bandung dan Univ. Padjajaran), Yogyakarta (Univ.
Gadjah Mada), Bogor (Institut Pertanian Bogor), Surabaya (Univ. Airlangga dan
Institut Teknologi Sepuluh November), Medan (Univ. Sumatera Utara), dan
Makassar (Universitas Hasanuddin).
Tentu, bukan hal yang mudah menjalani pembinaan selama
22 bulan. Begitu banyak godaan dan tantangan, terutama di waktu subuh :D . Tetapi, mengutip potongan Idealisme
Kami -Rumah Kepemimpinan-, “Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap
seperti ini; selain rasa cinta yang mengharu biru hati kami; menguasai perasaan
kami; memeras habis air mata kami; dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk
mata kami.”. Honda Soichirou, dikutip dari ricky Elson, pernah
mengatakan “Kurangi waktu tidurmu dan waktu makanmu. Terus berjuang karena
hanya orang yang sampai detik terakhir tidak menyerah yang akan menjadi
pemenang”.
Pemimpin yang ingin dilahirkan oleh Rumah Kepemimpinan
haruslah pemimpin yang mampu membangun peradaban. Tentu, bukan hal mudah untuk
membangun peradaban, tetapi mengutip pernyataan Bang Bachtiar, “Jangan mau menjadi abu, tetapi jadilah api
sejarah”. Untuk membangun peradaban, tentu dibutuhkan jiwa kepemimpinan profetik; dimana seorang pemimpin harus
memiliki semangat pembebasan dan transedensi
(berpikir lebih jauh dari orang lain). Rumah Kepemimpinan mengajarkan nilai-nilai
yang disingkat ROOM PK : Rendah
Hati, Open Mind, Objektif, Moderat, Prestatif, dan Kontributif. ROOM PK ini-lah
yang ditransformasikan dalam berbagai program pembinaan untuk membentuk kader-kader terbaik yang akan menjadi pemimpin hebat di masa depan.
Hal yang harus dipahami terkait pemimpin adalah the leader berbeda dengan penguasa.
Penguasa akan mempertanyaan apa dan dimana posisi saya; sementara the leader akan mempertanyakan bagaimana
cara saya untuk berkontibusi sebesar-besarnya. Seorang pemimpin yang baik
biasanya memenuhi rumus yang diajarkan oleh Sudirman Said (Menteri ESDM
2014-2016) dan Anies Baswedan (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 2014-2016),
yakni Credibility = [Integrity +
Competency + Intimacy] – Self Interest. Jika kita mampu memenuhi rumus tersebut maka akan terbentuk jiwa kepemimpinan di dalam diri kita.
Seorang pemimpin juga harus visioner, mengingat ada kalimat
bijak yang menyatakan bahwa Jika Anda
gagal berencana maka Anda berencana untuk gagal. Hidup adalah perjalanan
yang membutuhkan alat navigasi agar dapat sampai dengan selamat. Berpikir-lah ;
sebelum berangkat, tiba dulu. Pemimpin
hebat harus memiliki mimpi besar; karena pemimpin
hebat lahir dari mimpi besar. Hassan Al-Banna pun pernah mengatakan, “Kenyataan
hari ini adalah mimpi hari kemarin dan mimpi hari ini adalah kenyataan hari
esok”. Lalu, bagaimana cara merealisasikannya?. Ada beberapa tips alur yang diajarkan oleh Sandiaga S. Uno untuk
mengubah mimpi menjadi realita, yakni klasifikasi nilai-nilai, pahami
kondisi, ciptakan visi-misi, dan cepat lakukan implementasi. Jalan menuju kesuksesan
memang bukan jalan mudah melainkan berliku-liku ; sehingga dibutuhkan tekad yang
kuat, keberanian, tidak takut gagal, dan terus menjadi pembelajar.
Mari kita merenungkan kembali ajaran dari
Panglima Besar Jenderal Soedirman yang dikutip dari Bang Bachtiar Firdaus, :“Anak-anakku, Peserta Rumah
Kepemimpinan, kamu bukanlah pimpinan sewaan, tetapi pemimpin yang berideologi;
yang sanggup berjuang menempuh maut untuk keluhuran tanah airmu. Percaya dan
yakinlah bahwa kemerdekaan suatu Negara yang didirikan di atas timbunan tanah
keringat pemimpin dan bangsanya tidak dapat dilenyapkan oleh manusia manapun”.
Indonesia kini sedang hamil tua untuk melahirkan pemimpin
besar yang mengubah dunia; dan saya berharap itu adalah kita. Mengutip kata
bijak dari Anies Baswedan, “No person can change history single-handedly”. Kita adalah superman-superman yang siap
menjadi Superteam; demi tegaknya kejayaan, kemuliaan, dan terwujudnya cita-cita
Indonesia di masa depan. Mari bersatu, berkarya, mengglobal; dan menjadi saudara sampai surga; dengan tujuan tidak mengharap harta benda atau imbalan lainnya, tidak juga popularitas, apalagi sekedar ucapan terima kasih. Mengutip Idealisme Kami -Rumah Kepemimpinan- : Yang kami harap adalah,
TERBENTUKNYA
INDONESIA YANG LEBIH BAIK DAN BERMARTABAT SERTA KEBAIKAN DARI ALLAH – PENCIPTA
ALAM SEMESTA.
#Muhammad Faisal
#Presiden RI
#Rumah Kepemimpinan Reg. VII Makassar

Tidak ada komentar:
Write komentar