085656465961

Rumah Kepemimpinan Regional VII Makassar

Terus Berkontribusi untuk Bangsa dan Negara Indonesia

Senin, 09 Desember 2013

BELAJAR DARI ALAM

Anda tentu masih ingat lagu Ebiet G. Ade yang salah satu lirik lagunya berbunyi, : “Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang?”. Lagu tersebut mengajak kita untuk kembali berpikir ke arah pembelajaran yang sesungguhnya yaitu dunia. Dunia (baca: alam) adalah tempat kita belajar sekaligus mencoba mengajukan argumentasi bahwa alam barangkali merupakan jawaban terakhir dari kebingungan manusia menjalani kehidupannya yang semakin rumit. Ringkasnya, kita harus belajar dari alam untuk menjadi manusia yang sesungguhnya. 

Ada suatu syair dari suku Indian di Pasific Northwest yang dikutip dari buku berjudul "Environtment and Society"  berbunyi : "Engkau harus mengajarkan kepada anak-anakmu bahwa tanah yang dipijak oleh kakinya adalah debu dari nenek-moyangnya. Dengan demikian, mereka akan menghargai tanah itu. Katakan pada mereka bahwa bumi ini membantu kehidupan keluarganya. Ajarkan pada mereka bahwa bumi ini adalah ibu kita. Apa yang menimpa bumi, tentu menimpa pada orang-orang yang ada didalamnya. Bahkan, jika kita meludahi bumi ini berarti kita telah meludahi diri kita sendiri. Ini yang kami ketahui : bumi bukanlah milik manusia tetapi manusialah milik bumi. Ini yang kami ketahui : Segala sesuatu pasti berhubungan. Apa yang terjadi pada bumi, tentu akan terjadi pada orang-orang didalam bumi ini. Manusia tidak dapat menenun jaring-jaring kehidupan ini, manusia hanyalah salah satu untaiannya. Apa yang dilakukannya pada jaring itu berarti dia melakukannya pada dirinya sendiri.".

Syair lagu Ebiet dan ungkapan-ungkapan dari suku Indian di atas adalah kenyataan yang perlu kita renungkan kembali. Manusia adalah makhluk yang mampu melihat bahwa alam juga adalah dunia dimana dirinya dapat mempelajari banyak arti kehidupan. Lalu, apa yang diajarkan oleh alam pada kita?.

Pertama, harmonisasi kehidupan. Di alam, kita belajar bahwa dengan keanekaragaman yang begitu banyak dari spesies yang ada (bervariasi dari 2 juta sampai 100 juta spesies), kita melihat suatu keharmonisan kehidupan. Kita dapat melihat bagaimana alam menyimpan variasi makhluk hidup dalam satu atap yang disebut alam semesta. Begitu luar biasanya hingga tidak satupun spesies yang dapat hidup tanpa spesies lainnya. Harmonisasi kehidupan ini memberikan pelajaran berharga kepada kita bahwa hidup hanya akan menjadi kehidupan yang berarti jika ditempatkan dibawah keharmonisan. Setiap manusia harus belajar arti menjadi manusia; yang menghargai satu sama lain, bertanggung-jawab satu sama lain, dan membangun kehidupan yang saling pengertian satu sama lain.

Kedua, keindahan sejati. Anda pernah menelusuri Pantai Bunaken? berjalan-jalan ke Pasir Putih? mandi air panas di Mamasa? panjat teping di tengah gemuruh air terjun di Sambabo, Mambi? atau mungkin ke pantai Bira? Wakatobi ataupun Raja Ampat?. Alam menyediakan begitu banyak keindahan yang tersusun dalam komposisi yang menggetarkan sentimen sense keindahan sebagai manusia dan membangkitkan decak kekaguman akan hidup. Manusia yang sadar akan jebakan kepura-puraan keindahan artifisial berupa polesan di tubuh, aksesoris, dan kamuflase; akan belajar bahwa keindahan yang paling utama itu didapatkan dari ungkapan yang alami, bukan dari apa yang dipakai. Alam mengajarkan bahwa keindahan yang sejati lahir dari kesederhanaan dan kepolosan. Alam semesta adalah tempat kita belajar apa artinya menjadi manusia yang menghargai keindahan keragaman, keindahan kesatuan, keindahan kerjasama, dan keindahan tolong-menolong. Sebaliknya, kita harus berduka-cita terhadap kekerasan, kekejaman, keserakahan, dan variasi sifat manusia yang kontra nilai-nilai keindahan. 

Ketiga, arti hidup manusia. Sesungguhnya, alam begitu berbaik hati untuk menyimpan manusia dalamnya. Setiap hari, alam begitu sabar menanggung perlakuan-perlakuan manusia seperti perusakan, ekploitasi berlebihan, penghancuran ekosistem, dan sejumlah aktivitas yang dilakukan di alam ini. Pada awalnya semua biasa-biasa saja sampai kemudian segala sesuatu harus dijelaskan oleh alam pada manusia. Manusia butuh pelajaran akan keterbatasan kehidupan maka alam memberikan gempa bumi yang menelan jiwa. Manusia butuh pelajaran akan perlunya pengendalian nafsu keserakahan maka alam memberikan banjir dan tanah longsor. Manusia butuh diberikan pelajaran mengenai keterbatasan alam maka alam memberikan bencana kelaparan dan kegagalan panen. Semuanya sebenarnya merupakan keluhan alam yang disampaikan dengan "suara-suara" alami.   

Dari uraian di atas maka sewajarnyalah kita belajar dari alam. Terakhir, saya ingin mengutip kembali syair Indian di atas yang berbunyi, 


“MANUSIA TIDAK DAPAT MENENUN JARING-JARING KEHIDUPAN INI KARENA MANUSIA HANYALAH SALAH SATU UNTAIANNYA"

#Muhammad Faisal
#Belajar dari Alam

1 komentar:
Write komentar

Indonesia lebih baik dan bermartabat. Kunjungi - http://presidenfaisal.blogspot.co.id/
Join Our Newsletter