085656465961

Rumah Kepemimpinan Regional VII Makassar

Terus Berkontribusi untuk Bangsa dan Negara Indonesia

Senin, 07 April 2014

DI DEPAN, BUKAN DI ATAS

Filosofi menjadi pemimpin bagi saya bisa diringkas dalam satu kata saja yaitu di depan. Bagi saya, menjadi seorang pemimpin berarti memiliki kualifikasi berada di depan; bukan berada di atas. Pemimpin di atas menggunakan jari telunjukknya hanya untuk menyatakan kerjakan, sementara pemimpin yang di depan menggunakan seluruh jari tangannya untuk menyatakan mari kita lakukan. Pemimpin di atas, menggunakan seluruh jari tangannya untuk memukul, sementara yang di depan menggunakan seluruh jari tangannya untuk mengajak. Pemimpin di atas menggunakan tangannya untuk mematahkan, sementara pemimpin di depan menggunakan tangannya untuk menyatukan. Pemimpin yang di atas menggunakan jempolnya untuk memuji sementara keempat jemari lainnya terarah kepadanya, sementara pemimpin yang di depan menggunakan kelima jarinya untuk menarik dan mendorong.

Begitulah. Menjadi pemimpin yang di depan memang tidak gampang. Berada di depan; berarti bersiap untuk dinilai oleh yang dibelakang. Tetapi, pada saat yang sama juga harus menjadi pedoman bagi yang di belakang. Di Skotlandia, bebek-bebek biasanya terbang hijrah ke Selatan. Mereka terbang melintasi perjalanan bermil-mil jauhnya dan membentuk formasi untuk memudahkan perjalanan. Untuk itu, mereka menempatkan seekor bebek pemimpin di depan; bukannya di belakang, terlebih bukan di atas.

Pemimpin memang bukan bebek yang hanya bisa membebek. Tetapi, cerita bebek di atas bisa menjadi pelajaran bahwa pemimpin yang berada di depan memang harus bisa menjadi panutan. Menjadi panutan berarti mampu mengarahkan, memberi pedoman, termasuk mengetahui kondisi yang dibelakang.

Bagi bangsa sebesar Indonesia, menjadi pemimpin yang di depan memang akan sangat sulit. Bukan hanya karena memang tidak credible untuk menjadi yang di depan, tetapi karena ada lebih banyak orang yang memilih untuk berada di atas. Di atas tentunya lebih gampang dan lebih berkuasa. Menjadi yang di atas; penuh dengan kekaguman yang memabukkan. Sementara, kalau berada di depan; jangan harap mendapatkan pujian. Tidak akan ada yang mendongakkan kepala, lalu bertepuk tangan. Bahkan mustahil menunggu orang-orang standing ovasion kepada kita. Makanya, ada yang mengatakan bahwa kita adalah bangsa besar yang tidak memiliki pemimpin hebat.

Bukan hanya itu, kesulitan mencari pemimpin yang di depan juga terjadi karena tidak ada tempat bagi yang di depan. Yang ada hanyalah tempat bagi orang-orang yang di atas. Dalam suatu organisasi, CEO yang berada di atas menjadi idaman dan cita-cita. Medali emas, perak, dan perunggu tersedia bagi mereka yang pelan-pelan naik, naik, dan naik hingga berada di atas. Betapa akan sangat berbahagianya melihat kita merintis karier pelan-pelan lalu mencapai posisi puncak. Indonesia, sama saja. Jabatan-jabatan puncak yaitu yang di atas adalah kejaran yang harus dicapai dengan jalan apapun, termasuk dengan cara negatif. Yang penting ke atas.

Menjadi pemimpin pembelajar berarti belajar berada di depan. Saya teringat dengan kata-kata Bapak Pendidikan Nasional, : "Ing ngarsa sung tulodo" artinya : yang di depan memberi teladan. Apakah menjadi teladan sangat sulit? Apakah kita kesulitan mencari pemimpin yang berada di depan karena kita tidak bisa menjadi teladan?

Benar. Berada di depan memang begitu sukar; bersiap-siap menolong mereka yang kelelahan dalam perjalanan hidup ini, mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan bantuan, mendorong mereka yang lemah, dan bahkan mengangkat mereka yang terluka. Berada di depan juga harus merelakan diri untuk menunggu; kalau perlu membiarkan mereka yang berada di belakang melepas dahaga, barulah meneruskan perjalanan. Bagi mereka yang berada di depan, "hidup ini bukanlah tujuan, tetapi tujuan yang harus dikedepankan.".

Kalau saja semuanya berkehendak berada di depan maka siapa yang akan di belakang?. Tidak ada lagi yang berada di belakang karena semuanya sudah di depan. Tidak akan ada lagi yang perlu diatur karena semuanya sudah bisa mengatur diri sendiri. Tidak akan ada lagi yang perlu ditunggu. karena semuanya sudah maju bersama.

Kalau saja saya diberikan kesempatan untuk berbicara kepada semua pemimpin bangsa di dunia mengenai filosofi kepemimpinan, maka saya akan maju ke depan, benar-benar ke depan lalu berkata,

"MARI IKUT SAYA KE DEPAN!" 

#Muhammad Faisal
#The Dreamer

Tidak ada komentar:
Write komentar

Indonesia lebih baik dan bermartabat. Kunjungi - http://presidenfaisal.blogspot.co.id/
Join Our Newsletter