Sejauh apa pun kaki melangkah, rindu selalu mendekatkan anak perantauan dengan kampung halaman. Ya, sebuah kalimat bijak tentang kerinduan kepada kampung halaman di tengah kesibukan berpetualang di perantauan. Benar kata orang tua di kampung, “lebih mapia mangande sia di kampungta dala mangande bale ampo di kampungna tau” yang artinya : lebih baik makan garam di kampung sendiri daripada makan daging tetapi berada di kampung orang. Perkenalkan, nama saya Muhammad Faisal. Saya sudah merantau (baca: menuntut ilmu) di kampung orang selama ± 4 tahun. Saya lahir di Talippuki, sebuah desa kecil yang dikenal dengan sebutan lisuang ada’, yang berada di Kecamatan Mambi; artinya, saya adalah salah satu putera Pitu Ulunna Salu (PUS). Saya lahir pada tanggal 7 Oktober 1998 (Umur: 17 tahun lebih) ; sengaja saya tuliskan umur sehingga apabila terdapat kesalahan ataupun kekeliruan dalam tulisan ini, mohon pembaca dapat memaklumi karena saya hanyalah bocah kecil yang masih belajar menulis dan menelaah keadaan.
Sedikit
berbicara tentang sejarah, Pitu Ulunna Salu (PUS) memiliki arti “Tujuh Kerajaan
di Hulu Sungai”; yang terdiri dari Kerajaan Tabulahan, Bambang, Mambi, Arale,
Rantebulahan, Matangnga, dan Tabang. Semua kerajaan-kerajaan ini saling
menghormati dan saling membantu layaknya satu negara
kesatuan. Makanya, beberapa sumber menyatakan bahwa kerajaan di PUS tidak
seperti kerajaan lain yang memerintah dan berdaulat di daerah sendiri,
melainkan satu kesatuan wilayah
yang saling menghormati. Kerajaan-kerajaan inilah yang kemudian menjadi nama kecamatan
di kabupaten Mamasa dan mendiami hampir sebagian besar wilayah kabupaten
Mamasa, Sulawesi Barat.
Beberapa
waktu yang lalu, saya pulang kampung. Terbesit di pikiran saya, “Pasti kerenmi sekarang kampung. Pasti
bagusmi jalan, pasti adami penerang, pasti berkurangmi orang miskin, pasti
bagusmi sekolah-sekolah, pasti ……….”. Oh ya, perlu diberitahukan kepada
pembaca sekalian, Bupati Mamasa dan Gubernur Sulawesi Barat saat ini adalah putera
asli Pitu Ulunna Salu; serta sebagian besar pejabat di tingkat kabupaten dan
provinsi adalah orang Pitu Ulunna Salu. Sehingga, tidak salah jika saya
berpikir seperti di atas pada waktu itu. Tetapi, sesampainya saya di daerah,
saya mendapati kebalikan dari pikiran saya selama ini.
Jalanan
rusak parah, masih sama seperti 4 tahun yang lalu. Motor harus diangkat,
kecuali mereka yang sehebat Rossi. Mobil-mobil berjejeran dikarenakan sebagian
mobil tenggelam di jalanan yang penuh lumpur; sehingga mobil yang lain harus
menunggu waktu untuk tenggelam. Mirisnya, jalanan ini adalah jalan penghubung
pusat kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat dengan sebagian besar wilayah Pitu Ulunna Salu, termasuk
kampung halaman sang Putera PUS yang diberikan amanah untuk menjadi kepala
daerah. Sulit dipercaya, selama 4 tahun berpetualang di perantauan, keadaan
jalanan belum juga berubah. Ini seperti kanker yang sulit diobati. Yang paling
menjengkelkan; pada saat saya pergi ke perantauan 4 tahun yang lalu, saya
melihat orang dengan topi ala teknokrat berlogokan baling-baling berlatar
kuning sedang menggunakan Total Station
(alat survei dan pemetaan jalan); dan pada saat saya pulang kampung beberapa
waktu yang lalu, mereka masih melakukan hal yang sama. Bayangkan, cuma untuk
mengukur jalanan sejauh beberapa ratus kilometer saja, waktu selama 4 tahun (4
x 365 =1460 hari) masih belum cukup. Pertanyaannya sekarang, “Apakah mereka
(baca; pemerintah, pejabat terkait, pekerja) memang serius memperbaiki jalan
atau hanya sekedar melepas kewajiban setiap hari saja sembari menunggu
datangnya musim kemarau?.”. Dimanakah engkau para putera PUS sehingga tidak melihat keadaan hari ini?
Belum
cukup sampai di situ, penerangan di daerah (baca ; Pitu Ulunna Salu) belum
merata dengan baik. Masih banyak daerah yang belum mendapatkan fasilitas
penerangan. Kalau berkunjung di beberapa daerah di Pitu Ulunna Salu, siap-siap
saja gelap-gelapan di malam hari. Jaringan komunikasi belum merata dengan baik;
sehingga jika ingin berkunjung ke beberapa wilayah di Pitu Ulunna Salu, jangan
terlalu berharap bisa mengakses internet, mendengar dering panggilan masuk,
sms-an, dan buka sosial media. Akibatnya, banyak masyarakat yang buta internet,
buta teknologi, dan buta modernisasi. Masjid, yang katanya rumah ibadah,
bagaikan tempat yang tidak terurus. Menurut beberapa informasi, sudah banyak
proposal yang dimasukkan atas nama masjid, namun hanya ada beberapa yang
betul-betul digunakan untuk pembangunan masjid. Itupun melalui berbagai macam
potongan yang diselipkan ke kantong-kantong. Dimanakah engkau para putera
PUS sehingga tidak melihat keadaan
hari ini?
Bagaimana
dengan dunia pendidikan?. Pendidikan belum merata dengan baik. Masih banyak
anak yang sudah cukup umur, namun mereka tidak bersekolah. Ada juga yang
bersekolah, tetapi kerjanya hanya datang bermain saja. Mirisnya, masih banyak
sekolah yang kekurangan guru. Saya katakan kekurangan guru karena ketika saya
berdiskusi dengan masyarakat dan mendatangi beberapa sekolah di masa aktif
sekolah, hanya satu sampai tiga orang guru yang hadir dan kebanyakan adalah
guru lama yang sudah lanjut usia. Ada guru yang dalam satu waktu harus
merangkap mengajar di beberapa kelas. Miris memang. Masih banyak anak yang
berpakaian ala kadarnya, tidak bersepatu, bahkan tidak berseragam; Lalu
kemanakah dana pendidikan yang katanya 20% itu? Kemanakah dana bantuan untuk
siswa yang tidak mampu? Dimanakah engkau para putera PUS sehingga tidak melihat keadaan hari ini?
Ah,
masih banyak hal yang ingin saya ceritakan terkait keadaan daerah (baca ; Pitu
Ulunna Salu) pada saat saya pulang kampung beberapa waktu yang lalu. Tetapi,
mungkin pembaca bosan membaca tulisan yang cukup panjang ini. Ada baiknya,
pembaca sendiri-lah, terkhusus perantau dari PUS, yang berkunjung sendiri
sekaligus pulang kampung dan melihat keadaan daerah hari ini. Siapakah yang
bertanggung jawab terhadap keadaan hari ini?. Jawabannya kita semua, ;
masyarakat, perantau, dan terkhusus para Tuan-tuan pejabat yang berada di
singgasana hari ini. Tidak terketukkah hati engkau duduk di atas sana,
sementara masyarakatmu harus berjuang hidup di luar sana.
Pesan
saya kepada masyarakat, ; “Berteriaklah
untuk kampung halaman. Teruslah berbakti untuk daerah tercinta, untuk Pitu
Ulunna Salu, untuk kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Jangan mau disogok ataupun
menyongok; dan cepatlah tumbangkan kezaliman di PUS tercinta.”. Untuk para perantau, terkhusus para
penuntut ilmu, ; “Sekali-kali
pikirkanlah keadaan daerah kita. Jangan hanya sibuk dengan organisasi dan/atau
kerukunan yang menggandeng nama daerah; lalu berkegiatan di daerah orang.
Tanyakan, apa yang sudah kita berikan untuk kampung halaman.”. Ini juga
menjadi sindiran bagi diri saya yang terlalu sibuk kuliah, lomba, dan
organisasi, sehingga sering lupa daerah sendiri.” Dan kepada para pejabat,
terkhusus dua orang putra PUS terhormat yang hari ini duduk di jabatan
tertinggi di Mamasa dan Sulawesi Barat, “Ingatlah
kampung halamanmu. Kami tidak meminta uang dan jabatan, hanya meminta
dedikasimu untuk daerah ini. Ingatlah, Dehata
Buntu akan menjadi saksi kerjamu.”.
Pembaca sekalian; ingat, bagaimanapun keadaan kampung halaman; jangan pernah lupa untuk
mencintainya. Kita lahir di Pitu Ulunna Salu dan sudah sepantasnya kita
mencintai dan berbakti untuknya. Jangan pernah pesimis dengan keadaan, teruslah
optimis. Jika anda merasa pesimis, ya tunggulah saya menjadi presiden;
membangun kampung halaman. Hahaha. Ingat ajaran orang tua di kampung ; “Tau ditula tokasalle
mua’ mangkalehai kampunna”, artinya ; “Orang
dikatakan besar/hebat, jika ia mengingat (baca ; berbakti) kampung halamannya.”.
Dan terakhir; mari kita jawab pertanyaan ini, cukup di dalam hati kecil saja, :
“DIMANAKAH ENGKAU PARA PUTERA PITU ULUNNA SALU HARI INI?”
#Muhammad Faisal
#The Avenger - PUS

Tidak ada komentar:
Write komentar