Apa
yang anda pikirkan ketika mendengar kalimat, “dagangan pinggir jalan”?.
Anda mungkin berpikir tentang pisang goreng atau tahu tempe goreng yang
biasanya dijajakan di pinggir-pinggir jalan. Anda juga mungkin
mengasosiasikannya dengan tisu, korek atau aneka permen penghilang kantuk yang
biasanya dijajakan di halte-halte, atau mungkin baju-baju yang sering di gelar di
pinggir toko atau pinggir jalan.
Bukan!.
Bukan itu yang saya maksud sebagai dagangan pinggir jalan. Dagangan pinggir jalan yang satu ini unik. Anda harus mengeluarkan uang, tetapi
Anda tidak mendapatkan barang apapun. Uang yang Anda keluarkan pun biasanya
hanya sedikit bahkan tidak perlu sampai mengeluarkan dompet Anda. Lebih unik
lagi, dagangan ini adalah satu-satunya dagangan yang mungkin jarang sekali
direncanakan untuk dibeli. Dagangan ini adalah dagangan yang paling sering
dibeli untuk kategori barang yang tidak pernah direncanakan untuk dibeli.
Seringkali kita membelinya tanpa sungguh-sungguh dengan niat ikhlas bermaksud
membelinya. Kadang-kadang kita terkesan sekedar membuang-buang uang. Bahkan,
dagangan ini seringkali dibeli tanpa disadari oleh pembelinya; dan Anda mungkin
tidak pernah berpikir itu adalah sebuah dagangan. Orang pada umumnya menyebut
mereka pengemis atau peminta-minta. Bingung?. Mungkin anda bertanya apa
hubungannya dengan dagangan pinggir jalan?. Memang bisa dimaklumi karena mereka
memang tidak menjual apapun.
Tetapi, tunggu!. Mereka memang tidak menggendong kotak berisi permen, mereka memang tidak menjajakan koran berisi berita-berita aktual atau majalah-majalah sensasional, mereka memang tidak menawarkan makanan kecil kesukaan Anda, mereka memang tidak punya gerobak, tidak ada penggorengan, tidak ada dus atau kotak yang mereka gendong kesana kemari. Bahkan, tidak salah kalau sedikit didramatisir bahwa tidak ada apapun, tidak ada satupun yang mereka jual.
Tetapi, tunggu!. Mereka memang tidak menggendong kotak berisi permen, mereka memang tidak menjajakan koran berisi berita-berita aktual atau majalah-majalah sensasional, mereka memang tidak menawarkan makanan kecil kesukaan Anda, mereka memang tidak punya gerobak, tidak ada penggorengan, tidak ada dus atau kotak yang mereka gendong kesana kemari. Bahkan, tidak salah kalau sedikit didramatisir bahwa tidak ada apapun, tidak ada satupun yang mereka jual.
Tetapi, bukankah seringkali bahkan mungkin setiap kali melihat mereka, hati dan
pikiran kita bergelut dan menimbang-nimbang, “apakah kita harus member mereka
uang atau tidak?”. Bukankah seringkali ketika kita berlalu tanpa mengeluarkan uang
sepeserpun; kita kemudian menyesal meskipun mungkin hanya sebentar, persis
seperti orang yang menyesal membiarkan makanan kesukaannya lewat tanpa dibeli.
Bukankah seringkali ketika berpapasan dengan mereka, kita berpura-pura tidak
melihat dan tidak tahu mereka, persis seperti orang yang berusaha menolak
tawaran barang yang tidak ingin dibeli. Bukankah seringkali juga setelah kita
memutuskan akan memberi maka kita melihat mereka lebih seksama, menilai berapa
kira-kira uang yang diberikan untuk mereka; mungkin seratus, dua ratus, lima
ratus, atau seribu, sepuluh ribu, bahkan seratus ribu; persis melihat barang
dengan seksama untuk menilai harga yang pas untuk barang yang akan kita beli.
Bukankah sering juga setelah itu kemudian kita menyesal karena memberi terlalu
sedikit atau terlalu banyak.
Sekarang mungkin Anda sudah mulai mengerti siapa yang saya maksud. Kalau kita
merenung sejenak dan berpikir lebih dalam, semua reaksi kita terhadap mereka
sangat mirip seperti negosiasi antara pedagang dan pembeli. Ada pergulatan
antara keinginan untuk memberi atau tidak. Ada uang yang harus dikeluarkan. Ada
pertimbangan berapa uang yang kira-kira pantas diberikan. Ada sedikit
penyesalan bila ternyata agak kemahalan. Negosiasi antara pedagang dan pembeli
adalah tentang barang. Nah, mari saya beritahukan Anda apa nama barang yang
diperjualbelikan di sini.
"NAMANYA ADALAH HATI NURANI"
#Muhammad Faisal
#The Avenger

Apakah yg dijual oleh sang pngemis adlah penampilannya, dan yang dibayar oleh sang pemberi/pembeli adalah hati nurani ???
BalasHapuswhat do you think about that?
"Barang yang di perjualbelikan disini namanya adalah hati nurani".
HapusJangan terlalu terfokus sama kata perjualbelikan. Maknanya disini, semuanya tergantung sama hati nurani. Mereka tdk mengemis seandainya mereka berfikir orang yg berhati nurani itu sudah tidak ada. Dan para pemberi-pun tdk akan memberi seandainya mereka tdk punya hati nurani. Yang menjadi penilai adl hati nurani dan yg dinilai juga hati nurani.
Semuanya soal hati nurani.
bgimana jka kita tdk mempunyai uang untuk membayar, tp kita hnya bisa mndoakannya?
BalasHapus