Judul di atas adalah kata pembuka pada diskusi panjang malam ini yang mampu memantik sedikit demi sedikit semangat dan idealisme kami yang tenggelam di antara pusaran keapatisan dan perkembangan zaman. Soe Hok Gie pernah mengingatkan kita bahwa Jika kita dihadapkan pada dua hal yakni apatis atau mengikuti arus, maka pilihlah untuk menjadi manusia merdeka yang meneriakkan kebenaran. Diskusi malam ini cukup panjang namun sarat akan makna, apalagi diskusi kali ini punya nilai tambah. Jika diskusi sebelumnya mengajak kami untuk membangkitkan kembali semangat mahasiswa yang akhir-akhir ini hilang entah kemana maka diskusi kali ini punya sedikit rencana pergerakan. Ya, rencana sekaligus komitmen untuk berperan langsung dalam pergerakan mahasiswa khususnya di lingkup kampus tercinta, Universitas Hasanuddin, sehingga forum diskusi ini bukan hanya sekedar wadah pembangkit semangat ditemani secangkir kopi tetapi juga wadah aksi dan kotribusi.
Oh ya, diskusi panjang ini adalah salah satu rangkaian dari Diskusi
Revolusi Secangkir Kopi yang dilaksanakan setiap malam selasa dan malam kamis
di pelataran Rumah Ilmiah. Mungkin ada yang bertanya, mengapa disebut Diskusi
Revolusi Secangkir Kopi? Sayapun kurang tahu mengapa disebut demikian dan
mengapa bukan nama yang lain. Mungkin karena diskusi ini selalu ditemani
secangkir kopi atau juga mungkin karena ingin membawa nilai-nilai yang ada
dalam sebuah buku berjudul : Revolusi dari Secangkir Kopi. Apapun alasannya, diskusi
ini mampu mengisi cangkir-cangkir yang haus akan kajian-kajian berbau
kemahasiswaan, kajian-kajian yang sulit didapatkan dengan hanya duduk manis di
ruang kelas mendengar petuah-petuah dari dosen tercinta. Untuk lebih jelasnya,
silahkan datang di kajian rutin Diskusi Revolusi Secangkir Kopi. Selain
mendapatkan pengetahuan, teman-teman juga dapat mencicipi kopi hitam tetapi
dengan syarat : buat sendiri, hahaha.
Kita kembali ke diskusi malam ini yakni
adanya rencana dan komitmen untuk berkontribusi, dibuktikan dengan terbentuknya
tim work yang diberi nama Tim Resolusin (Resolusi Selusin). Mengapa Resolusin?
Mungkin alasan utamanya karena tim ini digerakkan oleh selusin (12 orang)
laki-laki pa’golla :D, eh maksudnya KPIers, yang punya tujuan sama untuk
menghidupkan kembali pergerakan mahasiswa di Universitas Hasanuddin. Sekedar
bocoran awal, tim ini rencananya akan mencari data tentang pentingnya BEM
Universitas di mata mahasiswa Universitas Hasanuddin.
Kita semua sudah tahu
bahwa ada keinginan untuk membentuk kembali BEM Universitas. Mengapa harus ada?
Ada banyak alasan, namun alasan utamanya mungkin agar pergerakan mahasiswa
Universitas Hasanuddin lebih terkoordinir dan ada payung hukum pergerakan. Meskipun
ada banyak alasan untuk membentuk kembali BEM Universitas, namun lagi-lagi
terbentur dengan kurangnya data. Apakah memang mahasiswa Universitas Hasanuddin
menginginkan adanya BEM Universitas? Ataukah ini hanya suara dari sekelompok
mahasiswa belaka?. Tim Resolusin hadir untuk mencari data terkait pentingnya BEM
Universitas yang mungkin dapat dijadikan referensi bagi pemegang keputusan dan
pihak-pihak terkait di Universitas Hasanuddin.
Soekarno pernah berkata : Jadilah pelaku sejarah, jangan cuma menjadi
penonton karena perjuangan terus berlanjut. Beraksi dan berkontribusilah. Kini, kita harus membuat risalah
pergerakan sebagai buku pedoman mahasiswa, Saya
tertarik dengan satu kalimat di dalam buku berjudul Bangkitlah Gerakan
Mahasiswa karya Eko Prayogi yang mengatakan : Hidupkan kembali jiwa jalanan di dalam dirimu!. Kalimat ini bukan sekedar
anjuran untuk berdemo di jalan, tetapi anjuran untuk menghidupkan kembali
kepribadian mahasiswa sekuat baja, sekeras batu, dan sekekar beton yang selalu
meneriakkan kebenaran dengan
berteriak lantang :
“DALAM SANGKAR TERKECIL, DARI JERIT ITULAH KITA LAHIR!”.
#Muhammad Faisal
#The Avenger
#Hidup Mahasiswa
#The Avenger
#Hidup Mahasiswa

Tidak ada komentar:
Write komentar