085656465961

Rumah Kepemimpinan Regional VII Makassar

Terus Berkontribusi untuk Bangsa dan Negara Indonesia

Kamis, 21 April 2016

MEMAAFKAN TUHAN

Dalam perjalanan hidup, saya yakin kita semua pernah kecewa. Kita merasakan ketidakadilan, kehilangan, kegagalan, dan frustasi yang luar biasa. Seorang penyair pernah berkata, : "Seseorang dikatakan manusia jika dia pernah merasakan kegagalan". Kemudian, kita marah kepada Tuhan. Ada pula yang menyalahkan Tuhan, mencurigai Tuhan, ataupun hanya sekedar mengeluh. Tapi yang jelas, kita bertanya dalam hati, : "Mengapa Dia biarkan semua ini terjadi? Mengapa saya diperlakukan tidak adil? Mengapa saya harus kehilangan orang yang saya cintai? Mengapa kerja keras saya selalu berujung dengan kegagalan?.". 

Menyalahkan Tuhan mungkin adalah suatu kesalahan. Mungkin? Ya. Karena kita tidak tahu apakah Dia berada di balik kejadian yang mengecewakan itu. Kalau benar, maka adalah manusiawi kalau kita marah kepada Tuhan. Sebagian besar orang mungkin tidak bisa menerima hal ini. Kita tidak bisa memarahi Tuhan sekalipun Dia berada di balik kejadian-kejadian yang menghancurkan hati kita.

Orang-orang di sekitar selalu mengatakan, : "Tuhan tidak pernah dan tidak akan pernah salah". Dia memiliki rencana yang indah dibalik peristiwa-peristiwa yang membawa duka. Kitalah yang harus belajar memahami rencana Tuhan dalam hidup kita. Saya setuju sekali dengan pernyataan ini. Tapi tidak ada gunanya juga berpura-pura "menerima" Tuhan, namun sebenarnya hati kita memberontak. Toh, Dia tahu yang paling dalam dari lubuk hati kita. Menahan kemarahan pada Tuhan dengan mengalihkannya pada diri sendiri hanya akan menambah satu kebohongan dalam diri kita.

Hampir semua orang percaya bahwa Tuhan itu hidup dan tidak akan pernah mati serta bekerja di tengah kehidupan manusia. Kemarahan kepada-Nya merupakan suatu bukti bahwa kita benar-benar konsisten dengan keyakinan itu. Kita tidak akan marah pada teman kita bila kita terjebak kemacetan di jalan. Kita tidak akan marah pada orang asing yang lewat di depan rumah kita bila di rumah kita tidak ada makanan. Kita tidak akan marah pada tetangga kita bila tukang yang seharusnya membereskan atap rumah kita ternyata belum juga menyelesaikan pekerjaannya. Kesemuanya, kita tidak marah karena kita tahu ketidakberesan itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.

Sebaliknya, kita marah pada pemerintah daerah yang tidak bekerja maksimal dalam menata daerah. Kita marah pada anggota yang telah melalaikan tugas-tugasnya. Kita marah pada tukang yang tidak mengerjakan tugasnya dengan baik. Ini paling tidak menunjukkan tiga hal. Pertama, kita yakin mereka orang yang bertanggungjawab akan hal itu. Kedua, kita tahu mereka mampu melakukannya. Dan ketiga, kita menaruh harapan pada mereka. 

Kemarahan kita pada Tuhan juga merupakan bentuk dari keyakinan kita bahwa Dia bertanggungjawab, Dia mampu dan Dia baik serta penyayang. Dia ada dan bekerja di tengah kehidupan kita. Bukankah itu keyakinan yang benar?. Kalau begitu, mengapa Dia yang maha segalanya itu mengecewakan kita?. Wah, saya kurang tahu hal tersebut. Silahkan bertanya pada Tuhan. 

Tapi, saya mau anjurkan sesuatu pada kita semua. Mari kita memaafkan Tuhan karena mungkin Dia mengecewakan kita, sebagaimana Tuhan mengampuni kita karena kita mengecewakan-Nya. Mari kita memaafkan Tuhan karena mungkin Dia tidak melakukan apa yang kita minta Dia lakukan, sebagaimana Tuhan juga mengampuni kita karena kita tidak melakukan apa yang Dia minta kita lakukan. Satu hal yang harus kita ingat :   

"DIA ADALAH PEMILIK JIWA KITA, SEDANGKAN KITA HANYALAH CIPTAAN-NYA" 

#Muhammad Faisal
#The Avenger

Tidak ada komentar:
Write komentar

Indonesia lebih baik dan bermartabat. Kunjungi - http://presidenfaisal.blogspot.co.id/
Join Our Newsletter