Dalam perjalanan hidup, saya yakin kita semua
pernah kecewa. Kita merasakan ketidakadilan, kehilangan, kegagalan, dan
frustasi yang luar biasa. Seorang penyair pernah berkata, : "Seseorang
dikatakan manusia jika dia pernah merasakan kegagalan". Kemudian, kita
marah kepada Tuhan. Ada pula yang menyalahkan Tuhan, mencurigai Tuhan, ataupun
hanya sekedar mengeluh. Tapi yang jelas, kita bertanya dalam hati, : "Mengapa Dia
biarkan semua ini terjadi? Mengapa saya diperlakukan tidak adil? Mengapa saya harus
kehilangan orang yang saya cintai? Mengapa kerja keras saya selalu berujung
dengan kegagalan?.".
Menyalahkan Tuhan mungkin adalah suatu kesalahan.
Mungkin? Ya. Karena kita tidak tahu apakah Dia berada di balik kejadian
yang mengecewakan itu. Kalau benar, maka adalah manusiawi kalau kita marah
kepada Tuhan. Sebagian besar orang mungkin tidak bisa menerima hal ini. Kita
tidak bisa memarahi Tuhan sekalipun Dia berada di balik kejadian-kejadian yang
menghancurkan hati kita.
Orang-orang di sekitar selalu mengatakan, :
"Tuhan tidak pernah dan tidak akan pernah salah". Dia memiliki
rencana yang indah dibalik peristiwa-peristiwa yang membawa duka. Kitalah yang
harus belajar memahami rencana Tuhan dalam hidup kita. Saya setuju sekali
dengan pernyataan ini. Tapi tidak ada gunanya juga berpura-pura "menerima"
Tuhan, namun sebenarnya hati kita memberontak. Toh, Dia tahu yang paling
dalam dari lubuk hati kita. Menahan kemarahan pada Tuhan dengan mengalihkannya
pada diri sendiri hanya akan menambah satu kebohongan dalam diri kita.
Hampir semua orang percaya bahwa Tuhan itu hidup
dan tidak akan pernah mati serta bekerja di tengah kehidupan manusia. Kemarahan
kepada-Nya merupakan suatu bukti bahwa kita benar-benar konsisten dengan
keyakinan itu. Kita tidak akan marah pada teman kita bila kita terjebak
kemacetan di jalan. Kita tidak akan marah pada orang asing yang lewat di depan
rumah kita bila di rumah kita tidak ada makanan. Kita tidak akan marah pada
tetangga kita bila tukang yang seharusnya membereskan atap rumah kita ternyata
belum juga menyelesaikan pekerjaannya. Kesemuanya, kita tidak marah
karena kita tahu ketidakberesan itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya
dengan mereka.
Sebaliknya, kita marah pada pemerintah daerah yang
tidak bekerja maksimal dalam menata daerah. Kita marah pada anggota yang telah
melalaikan tugas-tugasnya. Kita marah pada tukang yang tidak mengerjakan
tugasnya dengan baik. Ini paling tidak menunjukkan tiga hal. Pertama, kita
yakin mereka orang yang bertanggungjawab akan hal itu. Kedua, kita tahu
mereka mampu melakukannya. Dan ketiga, kita menaruh harapan pada mereka.
Kemarahan kita pada Tuhan juga merupakan bentuk
dari keyakinan kita bahwa Dia bertanggungjawab, Dia mampu dan Dia baik serta
penyayang. Dia ada dan bekerja di tengah kehidupan kita. Bukankah itu keyakinan
yang benar?. Kalau begitu, mengapa Dia yang maha segalanya itu mengecewakan
kita?. Wah, saya kurang tahu hal tersebut. Silahkan bertanya pada Tuhan.
Tapi, saya mau anjurkan sesuatu pada kita semua.
Mari kita memaafkan Tuhan karena mungkin Dia mengecewakan kita, sebagaimana
Tuhan mengampuni kita karena kita mengecewakan-Nya. Mari kita memaafkan Tuhan
karena mungkin Dia tidak melakukan apa yang kita minta Dia lakukan, sebagaimana
Tuhan juga mengampuni kita karena kita tidak melakukan apa yang Dia minta kita
lakukan. Satu hal yang harus kita ingat :
"DIA ADALAH PEMILIK JIWA KITA, SEDANGKAN KITA
HANYALAH CIPTAAN-NYA"
#Muhammad
Faisal
#The Avenger

Tidak ada komentar:
Write komentar