085656465961

Rumah Kepemimpinan Regional VII Makassar

Terus Berkontribusi untuk Bangsa dan Negara Indonesia

Jumat, 26 September 2014

DAGANGAN PINGGIR JALAN


Apa yang anda pikirkan ketika mendengar kalimat, “dagangan pinggir jalan”?. Anda mungkin berpikir tentang pisang goreng atau tahu tempe goreng yang biasanya dijajakan di pinggir-pinggir jalan. Anda juga mungkin mengasosiasikannya dengan tisu, korek atau aneka permen penghilang kantuk yang biasanya dijajakan di halte-halte, atau mungkin baju-baju yang sering di gelar di pinggir toko atau pinggir jalan.

Bukan!. Bukan itu yang saya maksud sebagai dagangan pinggir jalan. Dagangan pinggir jalan yang satu ini unik. Anda harus mengeluarkan uang, tetapi Anda tidak mendapatkan barang apapun. Uang yang Anda keluarkan pun biasanya hanya sedikit bahkan tidak perlu sampai mengeluarkan dompet Anda. Lebih unik lagi, dagangan ini adalah satu-satunya dagangan yang mungkin jarang sekali direncanakan untuk dibeli. Dagangan ini adalah dagangan yang paling sering dibeli untuk kategori barang yang tidak pernah direncanakan untuk dibeli.

Seringkali kita membelinya tanpa sungguh-sungguh dengan niat ikhlas bermaksud membelinya. Kadang-kadang kita terkesan sekedar membuang-buang uang. Bahkan, dagangan ini seringkali dibeli tanpa disadari oleh pembelinya; dan Anda mungkin tidak pernah berpikir itu adalah sebuah dagangan. Orang pada umumnya menyebut mereka pengemis atau peminta-minta. Bingung?. Mungkin anda bertanya apa hubungannya dengan dagangan pinggir jalan?. Memang bisa dimaklumi karena mereka memang tidak menjual apapun. 

Tetapi, tunggu!. Mereka memang tidak menggendong kotak berisi permen, mereka memang tidak menjajakan koran berisi berita-berita aktual atau majalah-majalah sensasional, mereka memang tidak menawarkan makanan kecil kesukaan Anda, mereka memang tidak punya gerobak, tidak ada penggorengan, tidak ada dus atau kotak yang mereka gendong kesana kemari. Bahkan, tidak salah kalau sedikit didramatisir bahwa tidak ada apapun, tidak ada satupun yang mereka jual.

Tetapi, bukankah seringkali bahkan mungkin setiap kali melihat mereka, hati dan pikiran kita bergelut dan menimbang-nimbang, “apakah kita harus member mereka uang atau tidak?”. Bukankah seringkali ketika kita berlalu tanpa mengeluarkan uang sepeserpun; kita kemudian menyesal meskipun mungkin hanya sebentar, persis seperti orang yang menyesal membiarkan makanan kesukaannya lewat tanpa dibeli. Bukankah seringkali ketika berpapasan dengan mereka, kita berpura-pura tidak melihat dan tidak tahu mereka, persis seperti orang yang berusaha menolak tawaran barang yang tidak ingin dibeli. Bukankah seringkali juga setelah kita memutuskan akan memberi maka kita melihat mereka lebih seksama, menilai berapa kira-kira uang yang diberikan untuk mereka; mungkin seratus, dua ratus, lima ratus, atau seribu, sepuluh ribu, bahkan seratus ribu; persis melihat barang dengan seksama untuk menilai harga yang pas untuk barang yang akan kita beli. Bukankah sering juga setelah itu kemudian kita menyesal karena memberi terlalu sedikit atau terlalu banyak.

Sekarang mungkin Anda sudah mulai mengerti siapa yang saya maksud. Kalau kita merenung sejenak dan berpikir lebih dalam, semua reaksi kita terhadap mereka sangat mirip seperti negosiasi antara pedagang dan pembeli. Ada pergulatan antara keinginan untuk memberi atau tidak. Ada uang yang harus dikeluarkan. Ada pertimbangan berapa uang yang kira-kira pantas diberikan. Ada sedikit penyesalan bila ternyata agak kemahalan. Negosiasi antara pedagang dan pembeli adalah tentang barang. Nah, mari saya beritahukan Anda apa nama barang yang diperjualbelikan di sini. 

"NAMANYA ADALAH HATI NURANI" 

#Muhammad Faisal
#The Avenger

3 komentar:
Write komentar
  1. Apakah yg dijual oleh sang pngemis adlah penampilannya, dan yang dibayar oleh sang pemberi/pembeli adalah hati nurani ???
    what do you think about that?

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Barang yang di perjualbelikan disini namanya adalah hati nurani".

      Jangan terlalu terfokus sama kata perjualbelikan. Maknanya disini, semuanya tergantung sama hati nurani. Mereka tdk mengemis seandainya mereka berfikir orang yg berhati nurani itu sudah tidak ada. Dan para pemberi-pun tdk akan memberi seandainya mereka tdk punya hati nurani. Yang menjadi penilai adl hati nurani dan yg dinilai juga hati nurani.
      Semuanya soal hati nurani.

      Hapus
  2. bgimana jka kita tdk mempunyai uang untuk membayar, tp kita hnya bisa mndoakannya?

    BalasHapus

Indonesia lebih baik dan bermartabat. Kunjungi - http://presidenfaisal.blogspot.co.id/
Join Our Newsletter