Satu hal yang
menarik hati ketika berhadapan dengan anak kecil. Mereka memiliki kesukaan
bertanya secara bebas dan tidak terbatas. Hal tersebut mereka lakukan karena
ketidaktahuan mereka, pikiran yang belum dipagari logika, dan pengalaman yang
masih sangat kurang. Banyak hal yang membuat anak-anak kecil sering memberikan
pertanyaan-pertanyaan yang menyentuh dan kadang mengejutkan. Ada pertanyaan, “Mengapa
matahari terlihat terbit dari timur? Dari apakah air itu terbuat?”. Ada juga
gugatan mengapa seorang anak tidak bisa memilih orang tua yang melahirkan
mereka?. Ada juga hentakan pertanyaan mengapa alam membuat gunung dan laut? mengapa
langit harus berwarna biru? bahkan kerap mereka juga memprotes Tuhan sebab
burung bersayap sedangkan manusia tidak; dan masih banyak lagi rangkaian
pertanyaan bebas tanpa batas lainnya.
Setiap orang dewasa yang pikirannya sudah dipagari logika dan etika, apa lagi dibumbui oleh nafsu besar untuk menghakimi, akan melihat semua pertanyaan ini hanya sebagai ungkapan-ungkapan dangkal yang tidak bermakna. Bahkan, orang-orang dewasa bisa melecehkan pertanyaan-pertanyaan mereka atau malah mendatangkan amarah besar. Namun bagi penuntut ilmu sejati, mereka akan menganggap anak-anak kecil sebagai guru-guru kejernihan yang sedang menyamar jadi anak kecil.
Kerap saya bertanya, siapa yang mencuri atau membawa terbang kejernihan dan kebebasan yang dulunya menjadi milik kita ketika masih berstatus anak kecil? Sekolah? Etika orang dewasa? Pengalaman yang lengkap dengan pagar-pagar besi yang mengerikan? Orang tua kita? Globalisasi dan sosialisasi? Atau mungkin nafsu dan kegemaran kita untuk suka dan terlalu mudah menghakimi?. Entahlah, yang jelas jauh lebih produktif untuk mencari dan menyelami kebebasan dan kejernihan dibandingkan mencari-cari kambing hitam siapa yang telah membawanya kebebasan dan kejernihan itu pergi.
Dalam pemahaman seperti ini, kadang saya suka mengajak diri saya sendiri dan juga orang-orang yang setia mendengarkan saya untuk berlomba-lomba membuat pertanyaan-pertanyaan yang tidak mungkin. Bermacam-macam pertanyaan yang saya buat, mulai dari pertanyaan, : “ Mengapa selingkuh itu indah bagi sebagian orang namun tidak untuk sebagian yang lain?, kenapa kita manusia harus dikandung Ibu tidak dikandung Bapak? mengapa kalau kita tidur harus di tempat tidur bukannya di atas genteng? mengapa kalau sungai di Jakarta meluap dan menyebabkan banjir, orang-orang Jakarta pada lari ketakutan, bukannya mengambil ban dan berenang menikmati keindahan banjir? mengapa mobil harus beroda sekurang-kurangnya empat? mengapa tidak dibuat mobil beroda satu saja? mengapa rumah harus ada atapnya? mengapa komputer harus dibuat dari bahan plastik dan bahan olahan lainnya? mengapa tidak bisa dibuat dari bahan-bahan alami seperti daun, tanah, batu, dan air saja?; dan masih banyak lagi daftar pertanyaan-pertanyaan aneh dan tidak mungkin.".
Semua pertanyaan ini tidak harus dijawab karena jawaban hanyalah rangkaian hal yang membuat kegiatan mencari jadi terhenti. Yang terpenting dari jawaban adalah hentakan-hentakan kejernihan dan kebebasan yang dibuat oleh pertanyaan-pertanyaan tadi. Setiap orang yang sudah dipasung, diikat, diperalat, dan diperkuda oleh rangkaian logika yang tidak jelas; mungkin akan membuang muka bila dibombardir oleh pertanyaan-pertanyaan tadi. Apapun pendapat dan sikap Anda menanggapi pertanyaan tersebut, saya ingin mengakhiri hentakan-hentakan lewat pertanyaan ini dengan sebuah kalimat, : Pertanyaan hadir di kepala bukan untuk dimusuhi, dicaci maki, serta dianggap bertentangan dengan logika dan etika; tetapi pertanyaan hadir di kepala dengan sebuah tugas yakni,
“MENGHENTAK DAN MENGETOK PINTU KEJERNIHAN PIKIRAN”.
#Muhammad Faisal
#The Avenger
Setiap orang dewasa yang pikirannya sudah dipagari logika dan etika, apa lagi dibumbui oleh nafsu besar untuk menghakimi, akan melihat semua pertanyaan ini hanya sebagai ungkapan-ungkapan dangkal yang tidak bermakna. Bahkan, orang-orang dewasa bisa melecehkan pertanyaan-pertanyaan mereka atau malah mendatangkan amarah besar. Namun bagi penuntut ilmu sejati, mereka akan menganggap anak-anak kecil sebagai guru-guru kejernihan yang sedang menyamar jadi anak kecil.
Kerap saya bertanya, siapa yang mencuri atau membawa terbang kejernihan dan kebebasan yang dulunya menjadi milik kita ketika masih berstatus anak kecil? Sekolah? Etika orang dewasa? Pengalaman yang lengkap dengan pagar-pagar besi yang mengerikan? Orang tua kita? Globalisasi dan sosialisasi? Atau mungkin nafsu dan kegemaran kita untuk suka dan terlalu mudah menghakimi?. Entahlah, yang jelas jauh lebih produktif untuk mencari dan menyelami kebebasan dan kejernihan dibandingkan mencari-cari kambing hitam siapa yang telah membawanya kebebasan dan kejernihan itu pergi.
Dalam pemahaman seperti ini, kadang saya suka mengajak diri saya sendiri dan juga orang-orang yang setia mendengarkan saya untuk berlomba-lomba membuat pertanyaan-pertanyaan yang tidak mungkin. Bermacam-macam pertanyaan yang saya buat, mulai dari pertanyaan, : “ Mengapa selingkuh itu indah bagi sebagian orang namun tidak untuk sebagian yang lain?, kenapa kita manusia harus dikandung Ibu tidak dikandung Bapak? mengapa kalau kita tidur harus di tempat tidur bukannya di atas genteng? mengapa kalau sungai di Jakarta meluap dan menyebabkan banjir, orang-orang Jakarta pada lari ketakutan, bukannya mengambil ban dan berenang menikmati keindahan banjir? mengapa mobil harus beroda sekurang-kurangnya empat? mengapa tidak dibuat mobil beroda satu saja? mengapa rumah harus ada atapnya? mengapa komputer harus dibuat dari bahan plastik dan bahan olahan lainnya? mengapa tidak bisa dibuat dari bahan-bahan alami seperti daun, tanah, batu, dan air saja?; dan masih banyak lagi daftar pertanyaan-pertanyaan aneh dan tidak mungkin.".
Semua pertanyaan ini tidak harus dijawab karena jawaban hanyalah rangkaian hal yang membuat kegiatan mencari jadi terhenti. Yang terpenting dari jawaban adalah hentakan-hentakan kejernihan dan kebebasan yang dibuat oleh pertanyaan-pertanyaan tadi. Setiap orang yang sudah dipasung, diikat, diperalat, dan diperkuda oleh rangkaian logika yang tidak jelas; mungkin akan membuang muka bila dibombardir oleh pertanyaan-pertanyaan tadi. Apapun pendapat dan sikap Anda menanggapi pertanyaan tersebut, saya ingin mengakhiri hentakan-hentakan lewat pertanyaan ini dengan sebuah kalimat, : Pertanyaan hadir di kepala bukan untuk dimusuhi, dicaci maki, serta dianggap bertentangan dengan logika dan etika; tetapi pertanyaan hadir di kepala dengan sebuah tugas yakni,
“MENGHENTAK DAN MENGETOK PINTU KEJERNIHAN PIKIRAN”.
#Muhammad Faisal
#The Avenger

Tidak ada komentar:
Write komentar